JAWABAN UJIAN PRAKTIKUM HISTOLOGI

Posted in Uncategorized on January 16, 2009 by dimashmp

euy, kunci histologi da kluar ne…jawaban q aq kasi tanda kurung ya…jd kita liat brapa dpt nilai q??

1. a.enamelum (odontoblastocytus,aq salah disini)

b.odontogenesis tahap lanjut/tahap lonceng (klo odontogenesis desmalis bener gak ya?)

2. a.von ebner

b.sulcus papillae

3. a.papilla fungiformis (epithelium squamosum stratificatum noncornificatum pada papilla fungiformis,,bweh panjangnya..alnya gak jelas ne apa yg ditunjuk..moga ja bner)

b.lingua

4. a.duodenum

b.glandula brunner

5. a.ventriculus

b.sel principalis (pricipalis bener gak ya?ada textbook yang namainya gitu kok!)

6.a.colonb.tunica mucosa lamina propria

7.a.villi intestinalis

b.epithelium simplex columnare (jaringan ikat longgar)

8.a.hepatocytus (sel kupffer, tp sel kupffer ada di hepatocytus kok,,)

b.1. bentuk poligonal

2.sitoplasma kemerahan, nukleus besar, bulat dipusat

9.a.vena interlobularis

b.triad porta

10.a. pancreas

b. asynocytus

mudah2n bagus ya nilainya…

Posted in reds on January 6, 2009 by dimashmp

pool

huy..huy…selamat datang…

Musim2008/2009 ini menjadi ajang kebangkitan bagi timku ini. Setelah lama tidak merasakan kekuasaan sebagai salah satu “big four”, musim ini “the reds” kembali dengan kekuataan baru. Bagaimana tidak, sampai pertengahan musim 2008/2009 the reds hanya satu kali mengalami kekalahan dan masih bertengger di puncak klasemen sementara dalam perebutan trofy premiership musim ini.

dari sahabatku

Posted in Uncategorized on January 6, 2009 by dimashmp

siapa saya yang menilai atau menghakimi seseorang?

Kalimat di atas sering sekali kita dengar. Barangkali pun sering kita
ucapkan.
Ketulusan adalah sesuatu yang seharusnya juga kita masukkan dalam
kalimat di atas.

sehingga secara implisit kalimatnya menjadi:
siapa saya yang bisa menilai ketulusan seseorang, atau menghakimi
tulus tidaknya seseorang?

Seperti juga keikhlasan, ketulusan (yang saya anggap part dari
ikhlas) adalah sesuatu yang tidak memiliki alat ukur yang jelas.
lalu apa indikator seseorang tidak tulus? apa indikator seseorang
tulus? adakah tips-tips mengenali bentuk ketulusan or ketidaktulusan ini?

Saya tidak tahu jawabannya. Saya lebih khawatir pada kesalahan saya
mengenali bentuk ketulusan, dibandingkan mengkhawatirkan ketulusan
orang-orang yang memasang wajah tulus di hadapan saya.

Kenapa?
Sebab apakah mereka tulus atau tidak, sama sekali bukan urusan saya.
Jika mereka tidak tulus, maka itu tidak akan merugikan saya… tidak
membuat saya menjadi orang yang lebih besar atau menjadi orang yang
lebih kecil.
Sebab kita sendiri yang menentukan, akan jadi manusia yang lebih
besarkah kita, atau sebaliknya. Bukan orang lain.

Katakanlah seseorang memberi pujian untuk kita.
“Wah, mbak cantik sekali. Lebih cantik dari yang saya dengar…”

Apakah mereka tulus mengungkapkan itu?
Ah, apa artinya mereka tulus ketika memuji atau tidak?
Sebab toh jika mereka tulus, pujian tersebut tidak membuat kita
bertambah cantik.
Adapun jika mereka hanya mencari bahan obrolan, atau berusaha lebih
dekat, atau mengambil hati kita dengan kalimat itu, saya kira ini
kreativitas seseorang yang tidak menyakitkan.

Bagaimana jika mereka mengatakan hal itu justru untuk mengecilkan hati
kita. Jahatnya begitu. Sebab kita yang tiap hari bercermin tahu betul
apa kata cermin tentang diri kita. Dan kita misalnya sama sekali tidak
masuk kriteria cantik secara fisik. Apakah kita harus merasa sedih
atau marah karena mereka tidak tulus? Justru mungkin diam-diam
menertawakan kita di belakang?

Ah, terus kenapa pula jika mereka memang menertawakan kita, jika
mereka tidak tulus? Apakah kita menjadi lebih kecil dan tidak berarti?
Tentu tidak. Arti diri kita, nilai diri kita… kitalah yang menentukan.
Sepenuhnya di tangan kita. Bukan tangan orang lain.

“Dia bilang saya hebat, padahal dia tahu proyek saya gagal… “
“Dia Cuma pura-pura manis depan saya, padahal maksudnya…”
“Dia kan begitu hanya untuk bisnis, ramahnya untuk
kepentingan- kepentingan tertentu…”

Katakanlah mereka benar tidak tulus terhadap kita… lalu kenapa? Apa
ruginya?
Bahwa manusia berusaha lebih kreatif, berusaha melancarkan bisnis,
berusaha untuk kehidupannya, apakah itu menjadikan mereka manusia yang
tidak baik? Tidakkah kita pun akan menjaga sikap kita, bahkan pada
orang yang tidak kita sukai, namun punya pengaruh? Sebab ini adalah
upaya survive dalam kehidupan, tahu bagaimana beradaptasi. Tentu kita
juga tahu bagaimana mencapai itu tanpa terjebak menjadi munafik.

Tentu saja, seharusnya seseorang tulus dengan apa yang dia ucapkan,
dengan apa yang dia lakukan…

Tetapi kalau mereka memiliki alasan lain, tidak berarti mereka tidak
tulus. Atau bahkan jika mereka benar-benar tidak tulus… Biarlah.

Kenapa harus kita membiarkan bisikan-bisikan tadi justru merusak
hati, dan malah melawan prinsip yang pernah kita tanamkan dalam hati
kita:
siapa saya yang menilai atau menghakimi seseorang?

Dengan menilai orang lain tidak tulus, menilai orang lain bermaksud
ini itu, memiliki kepentingan- kepentingan tertentu… mungkin kita
benar. Lalu jika benar, apa poin lebih bagi kita?

TAPI, bagaimana kalau kita salah menilai? Semua yang kita anggap
sebagai bagian dari ketidaktulusan justru merupakan ketulusan?

Ahh, apa pula arti ketulusan?
Apakah ketulusan harus sesuai dengan apa yang KITA inginkan? Sesuai
dengan definisi dan batasan-batasan KITA tentukan? Sehingga jika ada
yang melakukan sesuatu di luar rambu-rambu yang KITA tetapkan, kita
anggap tidak tulus?

“Kalau dia tulus harusnya dia begini dong…”
“Kalau tulus dia nggak mungkin begitu…”

Kenapa ketulusan harus kita yang menjadi juri. Harus menurut kacamata
kita?
Lalu di mana kita meletakkan poin, menghormati sebuah perbedaan? Bahwa
ada orang lain yang memang berbeda, bahasa, budaya, agama…

Ketika seseorang memilih bersikap berbeda semata-mata karena upayanya
menjadi hamba Allah yang lebih baik, dan bukan karena alasan-alasan
lain, tanpa bermaksud menyakiti orang lain. Jika kemudian sikapnya
tidak sesuai dengan keinginan kita, kacamata kita, atau apa yang kita
percayai, apakah dia menjadi tidak tulus?

Ketulusan itu, biarlah Dia yang menilai sepenuhnya.
Sebab memang terlalu rumit untuk kacamata manusia.

Manusia dengan kemampuan pikir, hanya boleh berasumsi, boleh
mengira-ira. Tapi dengan tetap menghidupkan kesadaran:
Allah, betapa terbatasnya mata kita, betapa luasnya pandanganMU.

Terbukti, kita seringkali salah menilai seseorang…

“Saya kira dia suka ini… ternyata tidak.”
“Kelihatannya orangnya pendiam, ya… ternyata kok rame.”

Begitu banyak ternyata-ternyata lain.

Buat saya, saya tidak ingin meletakkan kebahagiaan saya, di tangan
orang lain. Sebuah pujian tidak akan membuat saya bertambah kaya,
sebab saya tahu… di mataNYA, begitu banyak cela dan cacat saya, begitu
banyak ketidaksempurnaan saya, begitu kecilnya saya…

Tetapi, sebuah ketidaktulusan, juga tidak boleh menyakiti saya,
apalagi mengubah dunia saya. Ikhlaskan saja…
Tapi jadikan ketidaktulusan yang kamu temui, apakah asumsi atau
kemudian terbukti, di mana saja… kapan saja… siapapun yang
melakukannya, sebagai pelajaran dan bekal, untuk menjadi lebih tulus
dari kemarin.

Sebab saya tidak ingin membuat hati-hati lain retak karena saya
bersikap tidak tulus.
Saya yang harus tulus. Bukan orang lain.
Saya yang tidak boleh tidak tulus, bukan orang lain.

Sebab saya yang akan bertanggung jawab terhadap ketulusan atau
ketidaktulusan saya, di mahkamahNya nanti. Saya, bukan yang lain…

ASSALAMUALAIKUM

Posted in Uncategorized on January 6, 2009 by dimashmp

pool

huy..huy…selamat datang…

hari ini ujian osce yang sangat luar biasa..bayangkan saja kita membuat preparat sediaan tinja secara langsung, dahsyat sekali.hahahaha

Hello world!

Posted in Uncategorized on January 6, 2009 by dimashmp

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.